candi ratu boko

Merasakan Kemegahan Masa Lampau di Candi Ratu Boko Yogyakarta

Candi Ratu Boko Yogyakarta adalah sebuah situs purbakala yang terletak di dua pedukuhan, Dukuh Dawung di Desa Bokoharjo, dan Dukuh Sumberwatu di Desa Sambireja, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Letaknya tidak jauh dari Candi Prambanan, hanya sekitar 3 Km saja.

Situs purbakala ini berupa kompleks sisa bangunan istana atau keraton yang menempati lahan seluas 25 hektar di atas bukit. Meskipun menyerupai istana, tetapi fungsi utama dari reruntuhan bangunan ini belum diketahui secara pasti.

Situs ini diduga sebagai bekas bangunan istana karena bentuknya tidak menyerupai bangunan keagaman. Berdasarkan bukti fisik yang ada, di Candi Ratu Boko terdapat sisa bangunan tembok benteng dan parit yang berfungsi sebagai pertahanan. Selain sisa bangunan istana, di kompleks tersebut juga ditemukan sisa-sisa bangunan yang diyakini sebagai permukiman penduduk.

Candi Ratu Boko ini memang sangat berbeda dengan peninggalan arkeologis dari Jawa Kuno lainnya yang rata-rata berbentuk bangunan religius, seperti candi. Meskipun dinamakan candi, tetapi Candi Ratu Boko merupakan sebuah bangunan keraton yang lengkap, terdiri dari gapura, pendopo, tempat tinggal, pemandian, dan pagar pelindung.

Lokasi Candi Ratu Boko

Pembangunan keraton ini juga dinilai sangat berbeda dengan pembangunan keraton di masa Jawa Kuno pada umumnya yang lebih memilih tempat rendah. Keraton Ratu Boko dibangun di atas bukit yang relatif tinggi. Hal ini membuat para ahli sempat merasa kebingungan, bagaimana caranya para pekerja membangun sebuah sebuah keraton dengan bahan batu andhesit di atas bukit yang tinggi.

Tentunya, keraton di atas bukit ini memiliki keistimewaan tersendiri pada masanya. Posisinya yang tinggi membuat musuh kesulitan ketika menyerang, dan tentu menghadirkan udara yang sejuk bagi para penghuni keraton dan penduduk di sekitarnya. Keistimewaan lain yang terdapat di dalam kompleks ini adalah adanya tempat kremasi yang berada di sebelah kiri gapura.

Bagaimana sebenarnya asal-usul Candi Ratu Boko ini? Benarkah berhubungan dengan Roro Jonggrang? Apa daya tarik utama objek wisata ini? Mari kita telusuri lebih jauh.

Sejarah Candi Ratu Boko

candi ratu boko - foto kompleks ratu boko

Pertama kali dilaporkan oleh Van Boeckhlzt di tahun 1790, baru seratus kemudian dilakukan penelitian di Situs Ratu Boko ini yang dipimpin oleh FDK Bosch. Bukit Ratu Boko sendiri masuk ke dalam cabang Pegunungan Sewu yang berjajar dari Selatan Yogyakarta hingga ke Tulungagung. Lewat penelitian yang dilaporkan dalam Keraton van Ratoe Boko, situs ini kemudian diketahui sebagai reruntuhan dari bangunan keraton.

Sejarah tertulis dari Candi Ratu Boko ini terekam di dalam prasati Abyaghiri Wihara tahun 792 Masehi. Prasasti ini menceritakan tentang Tejahpurnapane Panamkarana, yang dikenal juga dengan Rakai Panangkaran, yang ingin mengundurkan diri sebagai raja dan menginginkan ketenangan batin.

Untuk itu, beliau memutuskan untuk membangun sebuah wihara atau tempat keagamaan yang bernama Abyaghiri Wihara (dalam bahasa Indonesia berarti wihara di atas bukit). Bangunan wihara tersebut kemudian benar-benar dibangun di atas bukit. Rakai Panangkaran merupakan seorang penganut Budha yang taat, tidak heran jika di dalam bangunan wihara ditemukan Arca Dyani Buddha.

Dalam perkembangannya, wihara ini kemudian dibuat menjadi bangunan keraton, lengkap dengan sistem keamanan berupa benteng. Dalam prasati Siwagrha, disebutkan jika Abyaghiri Wihara selanjutnya merupakan sebuah kubu pertahanan yang terbuat dari tumpukan ratusan bebatuan.

Lain halnya dengan legenda yang berkembang di masyarakat. Candi Ratu Boko ini justru erat kaitannya dengan legenda lainnya, yaitu Roro Jonggrang. Kisah ini diceritakan oleh Mas Ngabehi Purbawidjaja di dalam Serat Babad Kadhiri. Berikut kutipan ringkasan cerita tersebut.

Pada masanya, di Keraton Prambanan, memerintahlah seorang raja yang bernama Prabu Dewatasari. Sayangnya, sang prabu justru ditakuti oleh rakyatnya karena beliau diduga sangat gemar memakan manusia dan diberi gelar Prabu Boko. Namun sebenarnya, bukan sang raja yang gemar memakan dagin manusia, tetapi istrinya yang bernama Prabu Prawatasari. Dialah yang sebenarnya dijuluki sebagai Prabu Boko.

Sang permaisuri sejatinya merupakan titisan raksasa. Postur badannya yang tinggi dan kecantikannya yang tiada tara juga membuatnya dijuluki sebagai Roro Jonggrang. Kebiasaan memakan daging manusia dimulai sang permaisuri setelah melahirkan anaknya. Mengetahui hal ini, Prabu Dewatasari justru mengusir permaisuri dari istana.

Candi Ratu Boko inilah yang kemudian dipercayai sebagai keraton Prabu Dewatasari. Sedangkan patung Roro Jonggrang yang berada di kompleks Candi Prambanan merupakan perwujudan dari permaisuri yang dibuat oleh sang raja untuk mengobati rasa rindunya pada istri tersayang.

Terlepas dari legenda tersebut, kita patut bangga karena Situs Ratu Boko ini masuk ke dalam daftar Warisan Dunia UNESCO.

Apa yang Menarik di Cndi Ratu Boko?

candi ratu boko - foto sunset

Di dalam naungan PT. Taman Wisata Candi, Candi Ratu Boko saat ini telah resmi menjadi salah satu objek wisata di Yogya yang dapat Anda kunjungi. Sebagai tempat wisata, tentu sudah dibangun berbagai fasilitas dan atraksi wisata menarik yang tidak boleh dilewatkan.

Anda mungkin dapat melakukan beberapa hal di bawah ini ketika mengunjungi tempat menarik tersebut, di antaranya:

  • Wisata edukasi arkeologi yang dapat diikuti baik oleh Anda maupun anak-anak.
  • Menikmati pemandangan alam yang asri dapat Anda saksikan dari kompleks tempat wisata ini. Apalagi karena tempatnya yang berada di atas bukit, udara yang ada juga sangat sejuk.
  • Melihat candi pembakaran dan sumur suci, dua tempat yang sangat disakralkan di sini. Candi pembakaran dulunya digunakan sebagai tempat kremasi orang-orang yang meninggal. Sedangkan air dari dalam suci dapat digunakan sebagai upacara Tawur Agung yang dilakukan umat Hindu.
  • Mengunjungi kolam pemandian para putri yang jumlahnya sangat banyak. Total ada sekitar 35 kolam dengan ukuran yang berbeda-beda. Kompleks kolam pemandian ini terbagi menjadi dua bagian, utara dan selatan yang dipisahkan oleh sebuah dinding penyekat.
  • Menikmati keindahan matahari tenggelam dari atas bukit yang tidak boleh Anda lewatkan begitu saja.

Pada perkembangannya, kompleks keraton ini bukan saja mewakili agama Budha saja, tetapi juga agama Hindu. Terbukti dengan adanya Arca Durga, Ganesha, Lingga, dan Yoni.

Sebagai situs purbakala, Candi Ratu Boko tentunya wajib kita jaga. Jangan sampai keindahan yang ada dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Nikmatilah keindahan dan kemegahan masa lampau yang disajikan lewat reruntuhan bangunan yang ada. Dengan begitu, Anda akan menyadari betapa berharganya sebuah situs warisan dunia.

Untuk mengabadikan keindahan dan kemegahan Candi Ratu Boko tersebut, Anda diperkenankan membawa kamera saat berkunjung. Carilah spot-spot terbaik untuk mendapatkan hasil foto yang maksimal. Jangan lupa juga untuk ber-selfie ria dengan latar bangunan-bangunan keraton yang masih tersisa.

Harga Tiket Masuk Candi Ratu Boko 

Ada dua penawaran tiket masuk yang ada di objek wisata ini. Tiket reguler dan tiket sunset. Tiket reguler seharga Rp25.000,00 yang sudah termasuk parkir dan tiket sunset dengan harga Rp 100.000,00. Anda juga dapat mendapatkan harga tiket terusan melalui obyek wisata Candi Prambanan.

Dengan tiket terusan tersebut, anda dapat mengunjungi 2 tempat wisata candi di Jogja sekaligus. Dan anda juga mendapatkan fasilitas transportasi berupa mobil shuttle ( antar jemput ) yang berawal dan berakhir di Candi Prambanan Yogyakarta.

Bedanya, tiket reguler Candi Ratu Boko berlaku hanya sampai pukul 3 sore, sedangkan tiket sunset bisa mengajak Anda untuk tinggal lebih lama dan menikmati hingga matahari tenggelam.

Jadi bagi anda yang penggemar berburu foto sunset di Jogja, sebaiknya Candi Ratu Boko menjadi salah satu pilihan tempat wisata di Jogja yang wajib untuk anda kunjungi. Siapkan perlengkapan kamera anda, dan happy hunting sepuasnya!!

Share Artikel Ini

Contributor

About Contributor

Kami merupakan para pekerja pariwisata Jogja yang selalu menyukai traveling dan juga memburu obyek wisata di Jogja. Setiap minggu, jika tidak ada jadwal guide, kami selalu "blusukan" mencari tempat wisata yang baru dan menarik.

No Comments

Leave a Comment