Malioboro Jogja

Inilah 5 Tempat Paling Menarik di Kawasan Malioboro Jogja

Berbicara tentang wisata Yogyakarta memang tidak ada habisnya. Hampir semua kawasan menjadi pusat perhatian wisatawan. Yogyakarta tidak hanya indah, tetapi juga memiliki penduduk yang ramah. Keramahan itu makin terasa ketika Anda mampir ke Malioboro Jogja.

Malioboro Jogja merupakan nama sebuah jalan yang membentang sepanjang 2,5 km. Jalan inilah yang menjadi denyut nadi wisata belanja di Kota Yogyakarta. Malioboro Jogja menawarkan surga cendera mata dan keindahan budaya Jawa.

Malioboro Jogja menjadi saksi bisu bertahannya sebuah kerajaan Jawa kuno di Indonesia. Konon, Malioboro Jogja merupakan pusat kekuatan magis yang menghubungkan Keraton Yogyakarta, Pantai Parantritis, dan Gunung Merapi. Itulah sebabnya, sampai sekarang, Anda masih bisa menyaksikan kekentalan adat Jawa di sana.

Popularitas Malioboro sering dikaitkan dengan asal mula pemberian nama Malioboro. Pepatah mengatakah, bahwa nama memengaruhi nasib objeknya. Begitu pula dengan arti nama Malioboro yang berasal dari Bahasa Sanskerta. Malioboro memiliki arti “karangan bunga”. Menurut cerita rakyat, nama itu diberikan karena zaman dahulu jalan ini dipenuhi oleh bunga.

Tapi, ada versi lain mengenai asal mula nama Malioboro. Beberapa orang meyakini, nama Malioboro diambil dari nama seorang bangsawan Inggris bernama Marlborough. Pada tahun 1881-1916, bangsawan itu bertempat tinggal di Kota Yogyakarta. Lalu, namanya diabadikan sebagai nama jalan di jantung Kota Yogyakarta.

Terlepas dari semua itu, Malioboro dikenal sebagai lokasi belanja favorit di Yogyakarta. Anda bisa mendapatkan barang-barang dengan harga sangat murah di sana. Sejak kelompok Tionghoa menjadikan Malioboro sebagai pusat bisnisnya, tempat ini makin ramai. Berkunjung ke Yogyakarta terasa kurang sempurna kalau belum menandangi Malioboro Jogja.

Transportasi dan rute ke Malioboro Jogja

Letak Malioboro tidak jauh dari Keraton Kesultanan Yogyakarta. Jalan ini merupakan akses utama menuju keraton. Kalau Anda turun di Terminal Giwangan, Anda bisa menggunakan Trans Jogja trayek 3A dan 3B. Nah, bagi Anda yang berasal dari wilayah barat Pulau Jawa, Anda bisa menumpang kereta api dan turun di Stasiun Tugu. Stasiun ini berjarak 100 meter dari Malioboro Jogja.

Lalu, bagaimana kalau menggunakan kendaraan pribadi? Kawasan wisata belanja Malioboro merupakan kawasan bebas biaya tiket masuk. Anda bisa membawa mobil atau motor untuk masuk ke kawasan ini. Tapi sebaiknya, Anda memarkirkannya di tempat aman karena berbelanja di kawasan ini lebih efektif dengan berjalan kaki.

Apa sih, yang menarik di sekitar Malioboro Jogja?

malioboro jogja malam hari

Malioboro Jogja memang tidak memiliki pesona alam seperti kawasan wisata lainnya. Tapi, mampu membuat siapa pun tercengang dengan keunikan dan kekentalan budayanya. Tempat-tempat berikut ini memberikan fakta, bahwa Malioboro layak menjadi ikon Kota Yogyakarta.

  • Titik Nol Kilometer Malioboro

malioboro jogja - titik nol km jogja

Mendengar namanya mungkin membuat Anda penasaran, apa sebenarnya titik nol ini? Titik nol kilometer merupakan nama kawasan wisata sejarah di dekat Malioboro Jogja. Tempat ini berlokasi di persimpangan jalan antara alun-alun utara sampai dengan ujung selatan Malioboro. Konon, titik nol inilah yang menjadi pembeda jarak antara Yogyakarta dan daerah lainnya.

Titik nol kilometer terlihat indah saat malam tiba. Anda bisa menyaksikan gemerlap lampu dari gedung-gedung kuno peninggalan zaman kolonial Belanda. Sebelah utara terdapat jam kota atau stadsklok yang dibuat oleh Belanda pada tahun 1916.

Tidak jauh dari situ, berdiri Istana Kepresidenan Gedung Agung yang dibangun pada tahun 1832. Zaman dulu, istana ini adalah tempat tinggal para penguasa Yogyakarta, mulai dari Gubernur Belanda, Pemimpin Jepang, hingga presiden pertama Indonesia.

Selain itu, ada juga kompleks bangunan kuno berupa toko, bioskop, benteng, monumen, gedung BNI 46, dan kantor pos. Semua itu merupakan gurat pesona di kawasan wisata titik nol kilometer. Perpaduan antara budaya klasik dan modern membuat tempat ini memiliki keunikan tersendiri.

  • Pasar Beringharjo

Pasar Beringharjo, pusat perdagangan tertua di Kota Yogyakarta yang beroperasi sejak tahun 1758. Ratusan tahun silam, Pasar Beringharjo masih berupa lahan kosong yang ditumbuhi pohon beringin. Setelah Keraton Ngayogyakarta berdiri, tempat tersebut dijadikan sebagai pusat transaksi ekonomi oleh warga sekitar. Lalu, pada tahun 1925, Sultan Hamengku Buwono IX meresmikannya menjadi Pasar Beringharjo.

Seperti makna namanya, pasar ini memberikan kesejahteraan untuk penduduk Yogyakarta. Tempat inilah yang menjadi jantungnya perdagangan di Malioboro. Pasar Beringharjo menyediakan aneka batik, suvenir, dan beragam jajan tradisional. Barang-barang di Pasar Beringharjo terkenal murah meriah, lho. Jadi, Anda tidak perlu ragu mengunjungi pasar ini saat jalan-jalan di Malioboro.

  • Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Siapa sih, yang tidak mengenal Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat? Keraton inilah yang menjadi ujung tombak kebudayaan Jawa di Yogyakarta. Keraton ini juga menjadi pusat pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selain itu, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi sebagai salah satu objek wisata yang paling banyak dikunjungi. Anda bisa datang ke keraton pada pukul 08.30 WIB sampai dengan pukul 14.00 WIB. Sebelum masuk ke keraton, Anda harus membayar Rp5.000,00 per orang untuk mendapatkan tiketnya.

Anda bisa melihat banyak hal di kawasan wisata Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, seperti aktivitas abdi dalem dan koleksi barang-barang kuno. Tempat paling menarik di dalam keraton, yaitu sumur kuno. Konon, dasar sumur ini dipenuhi uang.

Kalau Anda berkunjung pada hari Selasa Wage, Anda bisa menyaksikan lomba memanah gaya Mataram di Kemandhungan Kidul. Syaratnya, Anda harus bersedia berpakaian ada Jawa saat mengunjungi acara ini. Menarik, bukan?

  • Mirota Batik

Anda gemar belanja batik? Jangan lupa mampir ke Mirota Batik saat berkunjung ke Malioboro. Toko ini berlokasi di ujung Jalan Malioboro. Uniknya, toko batik ini beroperasi sejak tahun 1980.

Toko yang dikelola oleh Hamzah Hendro Sutikno ini ternyata menyimpan cerita klasik. Pasalnya, nama Mirota berasal dari nama usaha orang tuanya, yaitu Minuman dan Roti Tawar. Dulu, Mirota Batik hanya sebuah bangunan mungil di ujung jalan yang menjual kerajinan khas Yogyakarta. Kini, gedung Mirota Batik telah dipugar menjadi lebih besar dan luas.

Barang-barang yang dijual di Mirota Batik semakin lengkap. Anda bisa menemukan aneka kerajinan tangan, patung, benda kuno, sampai dengan ragam batik tradisional. Kualitas kain batik di sana dikenal bagus dan harganya terjangkau. Anda juga bisa menyaksikan cara membuat batik tradisional secara langsung di Mirota Batik.

  • Tugu Yogyakarta

Inilah lokasi foto favorit para pengunjung Yogyakarta. Tugu Yogyakarta berdiri sejak tiga abad silam. Tugu yang dikenal sebagai Tugu Malioboro ini sempat mengalami pemugaran pada tahun 1889. Sayangnya, pemerintah Kolonial Belanda mengubah sebagian besar bentuk tugu ini, mulai dari bagian bawah hingga ujungnya. Tinggi tugu pun berkurang sekitar 15 meter.

Tugu Yogyakarta diyakini sebagai poros yang menghubungkan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan Gunung Merapi dan Laut Selatan. Tapi, di sisi lain, Tugu Yogyakarta merupakan simbol perlawanan terhadap penjajahan. Sampai saat ini, Tugu Yogyakarta dijadikan sebagai lambang Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mengingat Yogyakarta berati mengingat Malioboro. Yogyakarta dan Malioboro Jogja adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Malioboro Jogja, objek wisata belanja yang menjadi surga cendera mata khas Yogyakarta.

Share Artikel Ini

Contributor

About Contributor

Kami merupakan para pekerja pariwisata Jogja yang selalu menyukai traveling dan juga memburu obyek wisata di Jogja. Setiap minggu, jika tidak ada jadwal guide, kami selalu "blusukan" mencari tempat wisata yang baru dan menarik.

No Comments

Leave a Comment